DAFTAR ISI: tentang saya | being moderat | project5 | galeri | simple view | tanJabok.com

MAN BEHIND ME: muhammad, syekh abbas, afa, tan malaka, m.hatta, m.natsir, dt.ribandang-dt.ketemanggungan, umar bin khatab, ali bin abi thalib, etc...

as MINANG's: it isnt about narsism, every man shouldnt forget who they really are... if they do, they just burried their identity, let this be our opportunities/potentials, not threats... a half man dont know where they stand on...

14 June 2007

malakok, identitas global minangkabau

banyak yang bertanya tentang malakok ketika pertama kali saya bersikukuh tentang di "imburse" nya kembali budaya malakok dalam minangkabau...

etnis minangkabau bisa dibilang heterogen, ada yang keturunan cina, arab, india, persia, melayu tua, melayu baru, dan sebagainya.

pijakan kuat tentang terbukanya minangkabau dalam budaya global adalah, ditariknya urang sumando (laki-laki) dari luar minangkabau. tapi tentu tidaklah seperti itu semuanya, walaupun bisa dibilang mayoritas referensi (dalam konteks minangkabau) menyatakan seperti itu.

bagi seorang yang mampu menangkap essensi ini, pastilah ada suatu perundangan/hukum dimana individu-individu diluar minangkabau mampu masuk dalam minangkabau, dan kemudian pertanyaannya "bagaimana"?

satu pertanyaan terjawab dengan urang sumando, lalu kemudian timbul pertanyaan kemana laki-laki hebat yang ada dalam minangkabau jika beristrikan diluar minangkabau, tentunya ini menjadi pertanyaan berikutnya. bagaimana proses nya??

lalu timbul sebuah sistem yang bernama malakok, menjadikan seseorang beridentitas minang. kemudian muncul lagi pertanyaan, bagaimana aplikasinya...

sepanjang pengamatan saya, dengan memberikan gelar pada tokoh-tokoh masyarakat rantau non minang sebagai salah satu bentuk aplikasi tersebut, lalu kenapa malakok ini tidak dilegalisasikan saja demi tersebarluasnya faedahnya. tentunya aplikasi malakok ini bergantung pada individu dan masyarakat [suku] yang terkait.

sehingga dengan ini kita akan mampu menyatakan minangkabau bukanlah budaya yang berpandangan sempit dan penuh proses internalisasi, tapi merupakan sebuah budaya yang bisa dimasuki oleh siapapun, karena sifta terbukanya terhadap globalitas...

0 komentar:

Recommended

  • Memilih - Kadang berarti memantapkan hati dengan tak lagi berpaling pada yang lain. Namun adakalanya memilih adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengantarkan se...
    2 weeks ago
  • Colloque Hendri and Henky - Kalo di UI orang biasa nyebut Kolokium… nah di Paris rada beda dikit walau memang dari situ asalnya mereka nyebutnya kaya judul diatas ‘Colloque’ bacanya –...
    4 weeks ago
  • Negeri yang memupuk rasa benci - Nasib tak ada yang tahu, sehingga sering pepatah tua mengatakan, pandai-pandai memilih kawan, dan pandai-pandai mencari lawan. Ini bukan tentang kemampuan,...
    2 months ago
  • Andini: Listening to Old Songs.. - entah mungkin karena abis ada yang bilang you’re not alone (berapa orang gituh yang bilang gini, yaiyalahhh wong gw disini ramean, qqqqq), jadi nyampe ka...
    4 months ago
  • Jiwandaru: Traveling ke luar negeri: No Fiscal - Sekarang terdapat kebijakan baru pemerintah Indonesia, menyusul kebijakan yang sudah lama berjalan di beberapa negara tetangga, no-fiskal, yup fiskal sekar...
    6 months ago
  • Mixing Bottle - Finaly I can post this, sorry lads, dont have much time to editing… On our 1st semester at Product Design and Manufacture Class, we meet Prof. Tresna that ...
    7 months ago
  • Jawaban atas Tanda Tanya - Malam ini dia berharap bertemu dengannya, tapi sesal, seujung rambut pun tak menjadi rezkinya. Di pelataran itu, dia termenung, ada yang budaya yang memisa...
    10 months ago