DAFTAR ISI: tentang saya | being moderat | project5 | galeri | simple view | tanJabok.com

MAN BEHIND ME: muhammad, syekh abbas, afa, tan malaka, m.hatta, m.natsir, dt.ribandang-dt.ketemanggungan, umar bin khatab, ali bin abi thalib, etc...

as MINANG's: it isnt about narsism, every man shouldnt forget who they really are... if they do, they just burried their identity, let this be our opportunities/potentials, not threats... a half man dont know where they stand on...

29 January 2005

Dualitas Kepribadian

Terlibat perbincangan ringan dengan seorang kawan (emma thanx for the idea). tidak serius, yang intinya kami sepakati ada kepribadian natural (alami) dan artifiasial (buatan, thanx for bro' syarif for the word). Menarik sekali ketika kini kita dihadapi oleh segala sesuatu yang instan, dimana prosespun dianggap membuang waktu yang tidak sedikit untuk sebuah hasil. Banyak yang terjebak dalam pola pikir instanisasi semacam ini, tidak terlepas adalah saya, walaupun dengan pendekatan yang berbeda.

Kembali kepada perbincangan, natural character adalah sebuah sifat bawaan yang sudah pastinya tidak dapat dibuat dalam hitungan hari, bulan, bahkan tahun. bukan permasalahan waktu yang menjadi kunci terbentuknya kepribadian tersebut, tapi proses. Proses mengambil kendali waktu dimana tidak ada limit yang membelenggu proses tersebut. Sebuah kata kunci yang mempercepat proses tersebut, sebelumnya saya kurang setuju dengan pernyataan ini walaupun demikian saya tidak mendapatkan ungkapan yang lebih tepat dari hal tersebut, adalah cobaan, penderitaan, tantangan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu semua. Sebuah kodrat bagi manusia bahkan makhluk semesta alam ini, untuk berkembang sesuai dengan medan yang ia tempuh, medan dimana dia tumbuh, sehingga membentuk karakter.

Artifisial character, conditional making, dimana kepribadian dibangun berdasarkan kebutuhan, dengan melihat situasi dan kondisi. Baiknya, kepribadian macam ini dapat disesuaikan dengan keadaan, sehingga mampu disesuaikan dengan siapa kita berhadapan.

Dibalik perbedaan kedua macam kepribadian tersebut. ada sebuah fenomena yang dewasa ini terjadi, yakni sebuah penenggelaman natural character yang digantikan sementara dengan artifisal character, yang dilakukan oleh diri pelaku sendiri yang memiliki imbas-imbas, yang tentunya terdapat beberapa macam imbas. Dua macam imbas yang akan saya kemukakan adalah. pertama, bila artifisial character adalah lebih baik dari natural character, terdapat dua probabilitas yang saya garis bawahi. Pertama, anda hidup dalam sandiwara yang anda buat, hingga anda menyadari bahwa semuanya adalah sandiwara. Kedua, bila belenggu tersebut tidak kuat maka anda akan mengalami sebuah momen dimana natural character melakukan pemberontakan dan menguasai diri anda, sedangkan anda tidak sempat untuk mengkoreksi kepribadian anda tersebut, bila hal ini terjadi terlihat seperti letupan kecil yang tidak biasa.

Imbas yang kedua, apabila natural character lebih baik dari artifisial character. Akan memberikan dua imbas yang saya garis bawahi. Pertama, anda hidup dalam sebuah sandiwara yang memuakkan anda sendiri, yang anda kecewa dengan pencapaian dan hasil yang anda perbuat. Kedua, pada saat natural character anda memiliki kekuatan untuk menguasai keadaan, yang akan anda sadari adalah "anda membuang waktu terlalu banyak untuk sebuah omong kosong".

Banyak imbas-imbas yang lain yang dapat anda kemukakan, walaupaun saya hanya menuliskan sedikit dari semua itu. Satu hal yang saya yakini untuk berhati-hati dalam mengembangkan kepribadian-kepribadian tersebut adalah, sebuah kata yang sangat akrab "man arafa nafsahu arafa rabbahu" rumi, dengan sebuah pendekatan yang di reverse. Yakni pendekatan agama, memahami agama, memahami tuhan, semakin memperjelas apa mau kita, dan siapa kita.

Dan alhamdulillah dari sekian banyak buku tentang kepribadian, tidak ada yang memperjelas dan memuaskan saya tentang posisi saya dan siapa saya. Sampai ketika cobaan dan proses yang berfluktuasi mendobrak belenggu panggung sandiwara yang tidak sadar selama ini saya jalani dan buat, mengingatkan saya untuk kembali kepada alquran, the most valuable direction papers.

Recommended

  • Memilih - Kadang berarti memantapkan hati dengan tak lagi berpaling pada yang lain. Namun adakalanya memilih adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengantarkan se...
    2 weeks ago
  • Colloque Hendri and Henky - Kalo di UI orang biasa nyebut Kolokium… nah di Paris rada beda dikit walau memang dari situ asalnya mereka nyebutnya kaya judul diatas ‘Colloque’ bacanya –...
    4 weeks ago
  • Negeri yang memupuk rasa benci - Nasib tak ada yang tahu, sehingga sering pepatah tua mengatakan, pandai-pandai memilih kawan, dan pandai-pandai mencari lawan. Ini bukan tentang kemampuan,...
    2 months ago
  • Andini: Listening to Old Songs.. - entah mungkin karena abis ada yang bilang you’re not alone (berapa orang gituh yang bilang gini, yaiyalahhh wong gw disini ramean, qqqqq), jadi nyampe ka...
    4 months ago
  • Jiwandaru: Traveling ke luar negeri: No Fiscal - Sekarang terdapat kebijakan baru pemerintah Indonesia, menyusul kebijakan yang sudah lama berjalan di beberapa negara tetangga, no-fiskal, yup fiskal sekar...
    6 months ago
  • Mixing Bottle - Finaly I can post this, sorry lads, dont have much time to editing… On our 1st semester at Product Design and Manufacture Class, we meet Prof. Tresna that ...
    7 months ago
  • Jawaban atas Tanda Tanya - Malam ini dia berharap bertemu dengannya, tapi sesal, seujung rambut pun tak menjadi rezkinya. Di pelataran itu, dia termenung, ada yang budaya yang memisa...
    10 months ago